SEJARAH PERINTISIAN KELUARGA SILAT ASTO AJI DI KABUPATEN JEMBER

Sejarah perintisan Keluarga Silat Asto Aji di Kabupaten Jember tidak dapat dilepaskan dari perjalanan hidup seorang tokoh muda bernama Bapak Galih Kusuma. Beliau menghabiskan masa kecil hingga remaja di kawasan Kabupaten Jember, sebuah lingkungan yang kaya akan tradisi, budaya, dan nilai-nilai kedisiplinan khas masyarakat tapal kuda. Dari kecil beliau telah menaruh minat terhadap dunia pencak silat serta pengembangan diri melalui jalur olahraga dan spiritual. Lingkungan Jember yang dinamis serta banyaknya perguruan silat di daerah tersebut turut membentuk karakter dan semangat beliau untuk kelak mengambil peran penting dalam dunia persilatan.

Pada awal tahun 2024, perjalanan beliau dalam dunia persilatan memasuki babak baru ketika Bapak Galih Kusuma memutuskan untuk bergabung di sebuah lembaga yang berpusat di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Lembaga tersebut memiliki kekhasan dalam pengajaran teknik pernapasan dan spiritualitas, yang memberikan pengalaman berbeda dari perguruan silat pada umumnya. Dalam kurun waktu itu, beliau mengikuti berbagai tahapan pembelajaran sampai akhirnya diresmikan sebagai warga lembaga tersebut. Pengalaman ini memperluas wawasan beliau mengenai keilmuan tenaga dalam dan pembinaan mental.

Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin dalamnya keterlibatan, pada akhir tahun 2024 muncul rasa kecewa dalam diri Bapak Galih Kusuma. Kekecewaan itu dipicu oleh beberapa hal, antara lain dinamika hubungan dengan teman satu angkatan serta pengurus lembaga yang tidak sesuai dengan prinsip dan harapannya. Ketidaksesuaian tersebut memberi dorongan kuat bagi beliau untuk mencari jalan baru dalam mengembangkan diri dan keilmuan bela diri yang lebih selaras dengan nilai-nilai pribadi. Pada awal tahun 2025, beliau mantap memutuskan untuk keluar dari lembaga tersebut.

Keputusan ini bukan akhir dari perjalanan beliau dalam dunia persilatan, melainkan menjadi gerbang menuju babak yang lebih matang dan terarah. Tidak lama setelah keluar, beliau memutuskan bergabung dengan Keluarga Silat Asto Aji yang berpusat di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, sebuah perguruan pencak silat yang dikenal mengajarkan perpaduan antara bela diri praktis, filosofi luhur, kekeluargaan, dan etos kuat dalam pengembangan karakter. Dalam waktu relatif singkat di tahun 2025, Bapak Galih Kusuma berkesempatan belajar langsung kepada Ketua Umum Keluarga Silat Asto Aji, yaitu Kang Mas Bagus Prihantoro, yang memberikan bimbingan intensif dalam aspek teknik, mental, dan filosofi perguruan.

Pada tahun yang sama, setelah menjalani tahapan penggemblengan dan penilaian, Bapak Galih Kusuma disahkan menjadi warga resmi Keluarga Silat Asto Aji. Pengesahan itu bukan hanya simbol pengakuan, tetapi juga amanah besar, karena pada saat itu beliau mendapat kepercayaan langsung dari Kang Mas Bagus Prihantoro untuk mengembangkan ajaran Keluarga Silat Asto Aji sekaligus memperluas jangkauan perguruan di wilayah Kabupaten Jember. Amanah tersebut menjadi titik penting berdirinya cabang Asto Aji di Jember.

Merintis perguruan baru di daerah yang cukup luas bukanlah tugas mudah. Pada tahap awal, Bapak Galih Kusuma memulai segala hal secara mandiri, mulai dari mencari lokasi latihan hingga memperkenalkan perguruan kepada masyarakat. Lokasi latihan pertama ditetapkan di halaman SD Islam NU 18 Darus Sholah, yang berlokasi di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Tempat ini menjadi saksi awal tumbuhnya semangat persaudaraan Asto Aji di Jember dan menjadi pusat kegiatan komunitas kecil yang kelak berkembang menjadi lebih besar.

Ketika membuka pendaftaran pertama, Bapak Galih Kusuma berhasil mengumpulkan 9 siswa yang bersedia mengikuti latihan rutin. Namun, proses penggemblengan yang diterapkan sangat ketat dan tidak semua sanggup menjalani rangkaian latihan yang intens dan disiplin. Setelah beberapa bulan pelatihan, hanya 4 orang yang dinilai layak dan akhirnya disahkan menjadi warga Keluarga Silat Asto Aji angkatan pertama di Jember, yaitu Zainal Arifin, Ivana Sabiya Kristaman, Berlian Jolinta Akaira dan M. Radit Pratama. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai leting pertama Asto Aji Cabang Jember.

Setelah pengesahan tersebut, aktivitas pengembangan organisasi mulai berjalan lebih terstruktur. Dari empat warga yang disahkan, hanya dua orang yang tetap aktif secara konsisten mendampingi Bapak Galih Kusuma dalam proses melatih generasi baru. Mereka adalah Zainal Arifin dan Ivana Sabiya Kristaman. Keduanya bukan hanya murid, tetapi juga rekan perjuangan yang berperan penting dalam menyebarkan ajaran Asto Aji kepada masyarakat sekitar Wuluhan dan wilayah Jember selatan.

Keberadaan para pendamping ini sangat membantu dalam memperluas cakupan latihan serta memastikan bahwa nilai-nilai perguruan dapat diwariskan dengan baik. Ivana dan Zainal menjadi tangan kanan Bapak Galih Kusuma dalam berbagai kegiatan latihan dan pertemuan organisasi. Semangat keduanya menciptakan suasana latihan yang hidup, disiplin, dan penuh rasa kekeluargaan. Pada fase ini pula pondasi Keluarga Silat Asto Aji Cabang Jember semakin menguat.

Di luar kegiatan latihan rutin, salah satu fokus pengembangan Asto Aji di Jember adalah mengasah kemampuan atletik para murid. Bapak Galih Kusuma di bantu oleh Zainal Arifin mulai membentuk divisi atlet pencak silat yang bertujuan melahirkan pesilat muda berprestasi.

Atlet pertama yang menonjol pada masa perintisan ini adalah Ivana Sabiya Kristaman dan Rahma Aina Maulida. Keduanya berkembang pesat di bawah bimbingan para pelatih dan mampu menunjukkan kualitas saat mengikuti berbagai ajang latihan maupun seleksi internal. Prestasi dan dedikasi mereka membuat keduanya menjadi ikon generasi awal atlet Asto Aji Cabang Jember. Keberhasilan pembinaan awal ini menjadi bukti nyata bahwa cabang Jember mampu melahirkan pesilat berdaya saing.

Prestasi Rahma Aina Maulida dalam proses latihan membuatnya kemudian disahkan menjadi warga leting kedua di Keluarga Silat Asto Aji Cabang Jember. Setelah disahkan, Rahma tidak berhenti pada perannya sebagai atlet, tetapi turut serta membantu proses latihan siswa-siswa baru bersama Bapak Galih Kusuma, Ivana, dan Zainal. Keaktifannya menambah kekuatan baru bagi organisasi dan memperkaya generasi muda dalam pembinaan atletik.

Pada tahap perintisan ini, generasi pelatih muda yang bertanggung jawab membina para atlet terdiri atas Ivana Sabiya Kristaman dan Rahma Aina Maulida. Keduanya dikenal gigih, sabar, dan memiliki visi yang sama terhadap perkembangan cabang Jember. Mereka mengemban tanggung jawab untuk melanjutkan pembinaan atlet, menciptakan bibit baru, dan memperkuat identitas Asto Aji di tingkat lokal.

Dalam perjalanan perintisan, Keluarga Silat Asto Aji Cabang Jember tidak luput dari dukungan berbagai pihak. Salah satu tokoh yang paling berjasa adalah Ibu Siti Arbaiyah, ibunda dari Ivana Sabiya Kristaman. Beliau memberikan dukungan moral, fasilitas, perlengkapan latihan, bahkan bantuan finansial dalam berbagai kesempatan. Dedikasi beliau menjadi pilar penting keberlangsungan latihan selama masa-masa sulit dan awal berdirinya cabang.

Namun takdir berkata lain, pada tanggal 24 November 2025, Ibu Siti Arbaiyah berpulang ke rahmatullah. Kepergian beliau meninggalkan kesedihan mendalam bagi seluruh anggota Keluarga Silat Asto Aji Cabang Jember. Beliau dikenang sebagai sosok yang tulus, penuh kasih, dan berperan penting dalam menopang perkembangan perguruan pada masa awal perintisan. Hingga kini, jasa dan pengorbanannya terus dikenang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah terbentuknya Keluarga Silat Asto Aji di Kabupaten Jember.

Perintisan Keluarga Silat Asto Aji di Kabupaten Jember merupakan wujud nyata dari komitmen, perjuangan, dan pengabdian tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Dimulai dari perjalanan hidup seorang Galih Kusuma, kemudian diperkuat oleh Zainal Arifin, Ivana Sabiya Kristaman, Rahma Aina Maulida, serta dukungan penuh Ibu Siti Arbaiyah, cabang Jember berdiri di atas fondasi yang kokoh: ketekunan, persaudaraan, dan nilai-nilai luhur pencak silat. Dengan berdirinya cabang ini, harapannya Asto Aji dapat terus berkembang, membina generasi muda berakhlak, berdaya juang tinggi, dan berkontribusi bagi masyarakat. Semoga sejarah perintisan ini menjadi inspirasi bagi seluruh warga Asto Aji di manapun berada.


VISI & MISI KELUARGA SILAT ASTO AJi


VISI :

Suatu tekad yang bulat, dengan didasari kasih sayang didalam ikatan kekeluargaan yang memiliki kesamaan tujuan eling lan ngelingke, dengan dibentengi pencak silat.


MISI :

Mendidik manusia bermental baja, behati mulia, dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berjiwa pancasila.

Komentar